0561 678 3449 / 0561 678 3450
0561 678 3450
0561 678 3450
Hubungi Kami
RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
@rsud_ssma
  • PENGUMUMAN JADWAL PELAYANAN RAWAT JALAN SELAMA CUTI BERSAMA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M

  • PENGUMUMAN JAM KERJA PELAYANAN RAWAT JALAN SELAMA BULAN RAMADHON 1440 H / 2019 M

  • RSUD Pontianak Adakan In House Training Komunikasi Efektif Standar Akreditasi

  • Penerapan Fitur Sidik Jari Pasien di RSUD Kota Pontianak

  • RSUD SSMA Pontianak Selenggarakan In House Training PPI Dasar


Temukan Dokter
: - :
Informasi Kesehatan

Friday | 2019-04-30 10:47:31
Thursday | 2019-04-04 11:39:28
Monday | 2019-03-18 09:28:11
Wednesday | 2019-03-06 14:12:01
Tuesday | 2018-06-05 11:17:13
Aksi “Jum’at Berkah” di RSUD Kota Pontianak, Potensi Filantropi ?
Friday 2018-08-03 14:38:49 Bagikan ke Share to Facebook Share to Tweeter


Dahulu, di pedesaan dan pedalaman Indonesia, dan bahkan hingga saat ini pun, ketika satu warga ingin menyelenggarakan hajatan nikah, maka warga lain disekitarnya ikut membantu memberikan sumbangsih guna mensukseskan acara, baik dalam bentuk tenaga maupun bantuan dana, bersama-sama membangun panggung pesta dan pelaminan, serta menyisihkan sebagian dana untuk membantu biaya pernikahan warga lainnya. Masyarakat Indonesia mengenal budaya tersebut dengan budaya gotong royong, budaya tradisional yang rekat dengan identitas ketimuran Indonesia. Kecenderungan bergotongroyong ini telah mengakar kuat, dan menyatu dengan keindonesiaan itu sendiri. Keinginan membantu dan rasa kepedulian sosial yang tinggi melandasi motivasi warga untuk meringankan beban sesama, baik dalam mencukupi kebutuhan ekonomi maupun bantuan teknis lainnya. Dalam aspek kesehatan, kecenderungan tersebut juga dapat terlihat jelas ketika tetangga sakit dan dirawat di Rumah sakit, maka warga lain akan datang menjenguk sembari membawakan “buah tangan” agar dapat meriangkan hati si sakit. Hal tersebut sejatinya merupakan kebutuhan mendasar dari dorongan jiwa manusia yang sangat ingin memberikan perhatian dan membutuhkan perhatian, disayangi oleh sesamanya. Maslow, seorang pakar psikologi menempatkan kebutuhan akan kasih sayang tersebut sebagai kebutuhan dasar ketiga dalam teorinya tentang hirarki kebutuhan dasar manusia (Green, 2000).

Manifestasi hasrat membantu dalam bidang kesehatan, jika dilihat dari perspektif konsep revenue collection dalam fungsi pembiayaan kesehatan, ternyata dapat diimplementasikan dalam bentuk memaksimasi potensi dana masyarakat secara kolektif agar dapat bermanfaat besar bagi sesama dengan nilai sumbangsih yang signifikan. Bantuan personal dari masyarakat dalam bentuk dana kolektif dapat dikumulasikan agar bermanfaat besar bagi masyarakat lain yang membutuhkan. Dalam tataran prakteknya, upaya pengelolaan dana masyarakat secara kolektif tersebut dapat diklasifikasi menjadi dua opsi potensi, yakni jika jumlah person yang berperan sedikit namun dengan nominal sumbangsih besar maka akan memiliki potensi nilai yang besar, dan atau sebaliknya jika jumlah personal banyak / ramai namun dengan nominal sumbangsih yang sedikit pun juga memiliki potensi dana yang signifikan. Kedua opsi tersebut sama-sama dapat menjadi solusi alternatif guna meningkatkan input biaya dalam bidang kesehatan. Upaya menggali potensi kolektifitas dana masyarakat dikenal dengan istilah Filantropisme. Tentu saja pengumpulan dana dimaksud tidak harus berupa mata uang. Berbagai inovasi dan kreatifitas telah banyak dilakukan. Tahun 2014, sempat booming pemberitaan tentang inovasi dokter gamal albinsaid yang memperoleh penghargaan di Kerajaan Inggris lantaran kreatifitasnya dalam menemukan inovasi pengelolaan sampah, baik sampah rumah tangga maupun jenis sampah lainnya dari warga masyarakat sebagai premi asuransi dimana dengan nilai “sampah” tersebut dalam jumlah dan syarat tertentu dapat dihargai layaknya uang yang bisa digunakan untuk mengganti biaya berobat di klinik dokter Gamal, warga dapat berobat secara gratis pada klinik Indonesia medika milik sang dokter tersebut hanya dengan menyetorkan jenis sampah-sampah tertentu. Dana yang dikumpulkan dari pengelolaan sampah dikelola layaknya dana premi / iuran dalam mekanisme asuransi yang bermanfaat untuk membantu masyarakat miskin dengan keterbatasan biaya untuk berobat ketika sakit.

Pada contoh yang lain, konser amal Prof. Adi Utarini yang diselenggarakan oleh PKMK FKKMK UGM pada Mei 2018 lalu, berhasil sukses dan menyalurkan seluruh hasil penjualan tiket untuk dipersembahkan kepada Yayasan Kanker Indonesia (YKI) guna membantu membiayai pengobatan pasien penderita kanker. Demikian pula donasi Tahir Foundation tahun 2014 oleh Prof. Tahir, MBA bersama Bill Gates yang mendonasikan dana sebesar 80 Juta Dollar AS untuk membiayai program dana kesehatan Indonesia (Indonesia Health Fund). Aksi lainnya menggunakan media internet seperti website “We Care” yang khusus menggalang dana bantuan kesehatan pada pasien-pasien kurang mampu dan membutuhkan biaya besar untuk pengobatan juga merupakan bagian dari aktifitas filantropi kesehatan. Dikalangan aktifis mahasiswa juga kerap ditemukan aksi-aksi penggalangan dana filantropi untuk membantu meringankan penderitaan korban bencana alam. Potensi-potensi tersebut sejatinya memiliki prospek besar kedepannya jika dapat dikelola dengan lebih terarah dan terorganisir.

Pandangan para pakar tentang Filantropi agar dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan dan atau program-program kesehatan yang bersifat membantu sesama sejatinya telah lama dikenal. Bahkan dalam konteks pelayanan kesehatan di rumah sakit, potensi filantropi juga menjadi opsi yang diperhitungkan, disamping potensi dana investasi rumah sakit. Upaya penggalangan dana filantropi di rumah sakit tentunya mempertimbangkan berbagai cara untuk merangsang kontribusi masyarakat sekitar rumah sakit dan ataupun pengunjung rumah sakit serta karyawan rumah sakit (Smith. et al, 1995). Potensi aksi Filantropi di rumah sakit juga dapat dimanfaatkan guna membantu membiayai biaya kesehatan yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan seperti transportasi pasien, akomodasi keluarga pasien yang menunggu rawat inap pasien di Rumah sakit dan lain sebagainya (Trisnantoro, 2018). Namun tentunya pengelolaan aksi filantropi sebaiknya tetap diserahkan kepada masyarakat agar terjaga independensinya tanpa melibatkan intervensi formal dari pemerintah / instansi resmi terkait (Darwin, 2018).

Hal menarik lain terkait Filantropi di rumah sakit, dapat ditemukan di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak. Sebagaimana diketahui bahwa BPJS Kesehatan tidak menanggung biaya keluarga pasien yang menemani pasien rawat inap di rumah sakit. BPJS Kesehatan juga tidak mengatur alokasi anggaran apapun untuk membantu meringankan biaya keseharian keluarga pasien di rumah sakit. Namun, di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak, sejak tahun 2015 telah menginisiasi kegiatan positif “Jumat Berkah”. Kegiatan “Jum’at berkah” merupakan aksi menghimpun dana dari donatur, baik donatur dari internal karyawan Rumah sakit maupun masyarakat umum diluar lingkungan rumah sakit, dana yang terkumpul setiap minggunya akan digunakan untuk menyediakan makanan dan minuman bagi pasien pengunjung rawat jalan terutama keluarga pasien rawat inap yang bermalam di rumah sakit. Hingga saat ini, program “Jum’at Berkah” masih aktif berjalan. Menurut koordinator kegiatan “Jum’at berkah” yang adalah staf fungsional Instalasi radiologi, Ibu Utin Nurlia, S.ST, bahwa kegiatan Jum’at berkah tersebut didasari atas keinginan dan semangat beramal dari sebagian karyawan rumah sakit dan beberapa rekan sejawat di luar rumah sakit yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya guna membantu pasien dan atau keluarga pasien di RSUD Pontianak. Pada awalnya kegiatan tersebut hanya menyediakan makanan ringan untuk pasien pengunjung rawat jalan, namun pada perkembangan berikutnya dengan bertambahnya jumlah donatur dan nominal dana yang terkumpul, pengelola “Jum’at Berkah” dapat menyediakan makanan bagi keluarga pasien yang menginap di rumah sakit. Program “Jum’at Berkah” barangkali hanya skala kecil dari manisfestasi filantropi dalam bidang kesehatan. Tentunya diharapkan kedepannya akan muncul orientasi serupa berbasis semangat filantropisme guna membantu membiayai berbagai hal positif dalam program kesehatan terkhusus meringankan kesulitan keluarga pasien di rumah sakit. Tentunya dengan dilandasi semangat bergotong royong membantu sesama. Dengan “gotong royong semua tertolong”, kalimat tersebut seringkali didengungkan oleh institusi BPJS Kesehatan yang diamanatkan mengelola program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berbasis mekanisme asuransi sosial. Asuransi sosial sejatinya juga merupakan implementasi dari semangat filantropisme. Dalam konteks yang lebih luas lagi, sebagaimana yang telah di gagas oleh Prof. Laksono dari PKMK Universitas Gadjah Mada bahwa Filantropi di Indonesia memiliki potensi besar guna membantu pembiayaan kesehatan di Indonesia terlebih dimasa kondisi dewasa ini, dimana BPJS Kesehatan sedang mengalami defisit pembiayaan sebagai akibat mismatch, ketidakseimbangan antara pemasukan dari iuran premi dengan besarnya pembiayaan yang dikeluarkan guna membiayai pengobatan pasien peserta JKN-KIS.

Referensi :

 Darwin M (2018), Pemanfaatan Filantropi untuk JKN-KIS Digagas, http://www.jamsosindonesia.com.

 Green (2000), Classic in The History of Psychology A Theory of Human Motivation AH Maslow, York University Toronto, Ontario, www.Abika.com.

 Https://health.kompas.com/read/2016/Filantropi.untuk.Dukung.Perbaikan.Kesehatan

 Http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/01/140131_bisnis_sosial_kliniksampah

 Smith et al (1995), Philanthropy and Hospital Financing, https://www.ncbi.nlm.nih.gov

 Trisnantoro (2018), Potensi Konser Amal dalam Filantropisme di Sektor Kesehatan, http://www.filantropikesehatan.net.




























BERANDAPROFILEPELAYANANPROMOSI & KEGIATANFASILITASPENGADAANMitra Kerjasama
Copyright © 2014 Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak