0561 678 3449 / 0561 678 3450
0561 678 3450
0561 678 3450
Hubungi Kami
RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
@rsud_ssma
  • BPJS Kesehatan Cabut Tiga Peraturannya tentang Layanan Persalinan, Katarak dan Fisioterapi

  • Rumah Sehat

  • Cara Penggunaan Masker yang baik dan benar

  • Diet untuk Penderita Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis

  • Penyuluhan "Kejang Demam pada Anak"


Temukan Dokter
: - :
Berita & Event

Wednesday | 2019-05-29 11:14:10
Friday | 2019-05-03 13:57:29
Tuesday | 2019-04-30 10:41:08
Thursday | 2019-04-25 09:25:58
Friday | 2019-04-12 11:32:52
Memahami Urgensi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Thursday 2018-05-31 11:37:13 Bagikan ke Share to Facebook Share to Tweeter


Kesehatan menjadi kebutuhan utama Individu. Kesehatan mempengaruhi segala aspek aktifitas manusia. Bahkan mempengaruhi tingkat ekonomi masyarakat. Oleh karenanya, upaya mewujudkan masyarakat sehat menjadi urgensi utama dalam aktifitas pembangunan. Pilar kesehatan menjadi faktor penentu dalam petumbuhan ekonomi. Ketika aktifitas individu terkendala karena sakit, maka produktifitas terganggu, dan menurunkan aktifitas membangun dan memenuhi kebutuhan. Bahkan, upaya menjaga kesehatan ibu yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga menjadi penting dalam perspektif ekonomi kesehatan, demikian paparan Prof. Ascobat Gani dalam seminar beliau pada Kongres INA HEA ke-1. Analisis beliau menjelaskan  lebih lanjut bahwa ketika ibu rumah tangga banyak yang menderita sakit, maka tentunya segala aktifitas mengurus rumah tangga terhenti, dan anggota keluarga lain yang mestinya sibuk dalam aktifitas pemenuhan kebutuhan hidup akan terkonsentrasi guna mengurus ibu rumah tangga yang sakit. Kondis demikian, tentu ikut mempengaruhi aktifitas dan pertumbuhan ekonomi secara makro.

Atas dasar hal tersebut, maka berbagai upaya guna mengefesiensikan segala potensi dari unsur terkecil di keluarga menjadi sangat penting dalam menunjang peningkatan aktifitas ekonomi yang berdampak langsung terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi secara umum. Kondisi sakit juga turut menjadi penyebab utama meningkatnya beban ekonomi rumah tangga masyarakat Indonesia, karena biaya berobat yang mahal, terkurasnya waktu mengurus anggota keluarga yang sakit. Hingga pada beberapa kasus kesakitan yang berat, benar-benar mampu menguras sebagian besar aset-aset keluarga dan pastinya akan menurunkan tingkat ekonomi keluarga bahkan sampai pada level kemiskinan yang tidak diharapkan. Pada moment berbeda, Prof. Hasbullah katakan bahwa ternyata sistem kesehatan di Indonesia nyata-nyata berdampak memiskinkan rakyat Indonesia. Kaitan sistem dengan kemiskinan akibat sakit di lingkup keluarga, adalah, karena ketidakmampuan keluarga-keluarga kecil membiayai sakit, sakit yang tidak bisa di spekulasikan waktu dan tingkatannya, sangat uncertain, dan dipahami bahwa memang sakit adalah musibah, musibah yang semestinya menjadi masalah bersama bagi masyarakat, bukan tentang budaya gotong royong semata. Namun karena kondisi sakit bisa mengenai siapa saja dan kapan saja tanpa melihat kaya atau miskin, karena sang kaya pun bisa mendadak miskin lantaran sakit katastropik yang dideritanya. Dan begitu banyak contoh lain terhadap kondisi ini.

Ketika satu tetangga ada yang sakit, maka praktis, aktifitas mencari nafkah keluarga tersebut terganggu. Tetangga akan merasakan dampak, minimal aspek psikologis semestinya tergerak untuk membantu, jika masih berfikir bahwa dirinya tidak mungkin mampu memastikan kesehatannya jangka panjang maka aspek gotong royong, budaya saling menolong sejogjanya menjadi landasan utama dalam menolong tetangga yang sakit. Menolong potensi sakit pada tetangga/orang lain, tentu tidak serta merta dapat dilakukan seketika pada saat terjadi kondisi sakit, oleh karenanya jika kembali pada kenyataan banyak sekali keluarga di Indonesia yang terkendala dalam aspek pembiayaannya ketika sakit, untuk itulah dihadirkan sistem pembiayaan kesehatan yang diharapkan mampu mengatasi kendala ketidakpastian (Uncertain) biaya ketika terjadi sakit. Meskipun nilai kendala antar individu bisa berbeda beda. Namun, adalah menjadi urgensi utama untuk adanya satu sistem untuk mengantisipasi kondisi uncertain tersebut.

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), hadir sebagai solusi bersama, majemuk dan bersifat sosial dan berbasis mekanisme subsidi silang guna mengatasi keterbatasan banyak keluarga yang terkendala bahkan tidak mampu membiayai mahalnya biaya berobat ketika sakit. Program JKN merupakan sistem yang berbasis asuransi sosial. Artinya, dalam program JKN tersebut tiap individu dan atau warga negara dijamin pembiayaan kesehatannya dalam keanggotaannya pada badan asuransi yakni BPJS Kesehatan dimana tiap peserta asuransi diwajibkan mengiur premi untuk kemudian diberlakukan mekanisme subsidi silang antara keseluruhan peserta asuransi sosial. Peserta yang masih sehat, dana preminya digunakan untuk membantu biaya sakit pada peserta yang sakit, demikian sebaliknya. Peserta yang berkemampuan secara ekonomi/kaya, iuran premi nya dapat dimanfaatkan untuk membantu pembiayaan kesehatan pada masyarakat/warga yang tidak mampu dan sedang menderita sakit.

Di Indonesia, sistem asuransi dijalankan dengan tujuan utamanya mengatasi keterbatasan akses dan ketidakmampuan membiayai pengobatan ketika sakit. Namun, karena begitu besarnya dana yang dibutuhkan. Peran serta seluruh warga Negara Indonesia dalam kegotongroyongannya dan ketaatannya membayar iuran / premi, sejatinya adalah bagian dari upaya memberi manfaat bagi orang lain. Sekalipun yang meng-iur tidak sedang sakit, dana yang dikumulasikan dapat dimanfaatkan untuk membiayai mereka yang sakit dibelahan pulau dan atau daerah lain. Ada yang katakan mekanisme subsidi silang ini sebagai bentuk kegotong-royongan, berat sama dipikul, ringan sama di jinjing, demikian pepatah lama mengajarkan. Namun, cita-cita program JKN finalnya adalah agar semua rakyat Indonesia mendaftarkan dirinya dalam kepesertaan JKN sehingga terwujud Universal Health Coverage (UHC) dimana Indonesia telah berkomitmen bersama dengan masyarakat dunia dalam mewujudkan Jaminan Kesehatan Semesta bagi seluruh rakyat indonesia khusunya dan masyarakat dunia pada umumnya. BPJS Kesehatan sebagai badan hukum publik penyelenggara program Jaminan Kesehatan yang ditugaskan oleh Pemerintah melalui Undang-undang untuk mengelola dana premi dan memaksimalkan kepesertaan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Kepesertaan masyarakat Indonesia dan ketaatannya dalam membayar premi, sejatinya adalah bentuk kepedulian masyarakat Indonesia terhadap derita sesama warga Indonesia lainnya yang menderita sakit di daerah lain. Kata-kata bijak menyatakan bahwa manusia yang terbaik adalah yang paling banyak bermanfaat bagi manusia yang lain. Untuk itu, mari pertanyakan kepada diri masing masing akankah diri ini sudah bermanfaat banyak bagi sesama?. Hanya diri ini yang bisa menjawabnya. Memang banyak sekali sarana untuk bermanfaat bagi sesama. Namun, peran serta dalam program JKN adalah satu sarana menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kesadaran kita sebagai rakyat Indonesia, tergugah dan tergerak untuk bersama membangun dan mewujudkan suksesnya program JKN ini. Paling tidak, demikianlah salah satu sumbangsih, partisipasi kita sebagai warga yang masih dikaruniai kesehatan.  Terakhir mari bersama sukseskan program JKN sebagai solusi pembiayaan guna mengatasi mahalnya biaya ketika jatuh sakit. Dan mari memahami kembali bahwa Sakit adalah musibah. Musibah individu yang sejatinya juga masalah bersama karena fitrah manusia ketika mengalami tentu sangat mengharapkan uluran bantuan orang lain (As).

Bacaan Lanjut :

  1. Gani Ascobat, Kongres Indonesia Health Economics ke- 1 2014, Bandung.
  2. Thabrani, Hasbullah, 2005, Dasar-dasar Asuransi Kesehatan, PAMJAKI, Jakarta
  3. Thabrani Hasbullah, 2015, Jaminan Kesehatan Nasional, Rajawali Press, Jakarta



























BERANDAPROFILEPELAYANANPROMOSI & KEGIATANFASILITASPENGADAANMitra Kerjasama
Copyright © 2014 Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak