0561 678 3449 / 0561 678 3450
0561 678 3450
0561 678 3450
Hubungi Kami
RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
@rsud_ssma
  • Jenis Pelayanan Kesehatan di RSUD Kota Pontianak

  • Rumah Sehat

  • Cara Penggunaan Masker yang baik dan benar

  • Diet untuk Penderita Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis

  • Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional


Temukan Dokter
: - :
Berita & Event

Wednesday | 2019-09-25 13:57:53
Friday | 2019-09-19 11:12:03
Wednesday | 2019-09-11 17:40:54
Tuesday | 2019-08-13 11:45:26
Saturday | 2019-08-12 08:24:50
Cegah Si Manis yang Berujung Kronis (Diabetes Perspektif Teori Perilaku)
Saturday 2019-07-20 22:22:58 Bagikan ke Share to Facebook Share to Tweeter


“Cegah Si Manis yang Berujung Kronis (Diabetes Perspektif Teori Perilaku)”

“Cegah Si Manis yang Berujung Kronis” adalah Judul Inovasi yang menghantarkan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie mendapatkan penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik pada Kamis malam 18 Juli 2019 di Semarang. “Cegah Si Manis yang Berujung Kronis” merupakan tema yang dipilih untuk merepresentasikan urgensi upaya pencegahan terhadap meningkatnya penderita Diabetes Mellitus (kencing manis) di Kota Pontianak melalui proses edukasi yang terintegrasi dalam layanan Klinik Terpadu Edukasi Diabetes di RSUD Kota Pontianak. Terlepas dari konteks penghargaan bergengsi tersebut, bahwa dalam tema tersebut terdapat diksi “Manis” yang seakan menjadi keyword dari diabetes itu sendiri.

Manis merupakan diksi yang digunakan untuk memahami rasa yang menarik bagi yang merasakannya. Setidaknya demikian Kamus bahasa Indonesia menjelaskan. Manis juga diidentikkan dengan Zat Gula. Zat Gula memang enak dan memberikan sensasi rasa nikmat bagi yang merasakannya. Sehingga dengan rasa manis itulah begitu banyak yang teramat ingin menikmati Gula, baik sebagai campuran pelengkap Kopi, Teh maupun minuman lainnya.

Namun, rasa manis makanan tidak selalu berefek baik bagi tubuh terlebih lagi jika dikonsumsi secara berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan sampai melebihi kadar semestinya tentu akan berpotensi memiliki dampak resiko negatif. Demikian pula Gula, zat yang mewakili rasa Manis, dalam kadar tertentu bermanfaat baik serta enak untuk di konsumsi. Namun dalam kadar berlebih tentu berdampak negatif bagi tubuh.

Judul diatas “Cegah Si Manis yang berujung kronis”, tentu saja bukan untuk menghindari sepenuhnya dari kuantitas “Si Manis”, namun untuk mengatur kadarnya agar seimbang dan layak untuk diterima tubuh secara ideal. Judul tersebut juga ingin menjelaskan betapa konsumsi “Si Manis” dalam jumlah besar dan berlebihan sangat berpotensi negatif terhadap kesehatan tubuh dan bahkan dapat menyebabkan penyakit degenerative. Dalam kedokteran dikenal sebagai “Diabetes Mellitus”. Masyarakat menyebutnya sebagai Penyakit Kencing Manis.

Tidak jarang dijumpai di banyak rumah sakit, pasien yang kehilangan sebagian kakinya, karena di amputasi, dipotong akibat mengalami kerusakan kronis, jaringan mati tak berfungsi hingga harus dibedah. Dokter katakan bahwa jaringan yang mati tersebut akibat penyakit kencing manis. Penyakit kencing manis menjadi momok yang menakutkan ketika sudah sampai pada tahap kronis yang mengkhawatirkan. Semuanya berawal dari betapa nikmatnya mengkonsumsi “Si Manis”. Ketika duduk santai menikmati pemandangan tepi pantai ditemani Kopi Manis. Ketika berkumpul bersama keluarga tercinta ditemani teh manis, kue manis, snack manis, sampai pada manisan yang banyak dijumpai di toko – toko makanan, juga tak luput menghiasi hari-hari santai bersenda ria bersama keluarga, teman kumpul, dan berbagai moment lainnya. Tanpa disadari bahwa ternyata “Si Manis” telah begitu sering menemani keseharian kita, dan menumpuk memenuhi setiap sudut ruang jaringan tubuh. Ketika itulah “Si Manis menjadi Kronis”. Kronis dalam arti ketika asupan si manis tidak diimbangi dengan diet dan aktifitas fisik yang semestinya. Penyakit kencing manis terjadi karena asupan “si manis Gula” menumpuk dalam tubuh, sehingga organ pankreas yang fungsinya mengubah zat gula menjadi energy (Glicogen) mengalami ketidakmampuan kerja dan sang pasien pun di vonis mengidap penyakit kencing manis / diabetes mellitus. Penyakit ini termasuk Penyakit Tidak Menular karena memang tidak memiliki daya tular layaknya penyakit infeksi.

Dalam konteksnya sebagai penyakit tidak menular, maka tulisan ini tidak fokus pada analisa medis terhadap diabetes, Namun, lebih pada perspektif ilmu perilaku yang mempengaruhi terjadinya diabetes. Sejatinya penyakit kencing manis bisa dikatakan memiliki daya tular yang lebih mengkhawatirkan. Penularan penyakit kencing manis bukan melalui bakteri atau kuman dan mikroba sebagaimana umumnya dipahami pada penyakit infeksi.  Penularannya lebih kepada trend gaya hidup, pola perilaku, kebiasaan sehari-hari yang dalam ilmu perilaku diistilahkan sebagai fenomena imitasi perilaku. Gaya Hidup / Life style menjadi faktor pendukung (predisposisi) utama yang berperan terhadap peningkatan Penyakit tidak menular, termasuk juga penyakit kencing manis. Sebagaimana menularnya kebiasaan perilaku merokok, maka perilaku mengkonsumsi makanan manis, tentu juga dapat memberikan daya tular kepada sekitar.

Berbicara tentang “daya tular”, manusia sejatinya memiliki kecenderungan untuk berinteraksi sosial. Interaksi antar personal dalam lingkungan mengarahkan manusia untuk ingin meniru gaya, perilaku bahkan kebiasaan orang lain. Ketika tertarik pada gaya hidup orang lain, maka muncul kecenderungan untuk mencoba dan mencoba. Kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman manis, dalam kehidupan sehari-hari teramat sulit dihindari. Terutama bagi kelompok resiko dari pekerja kantoran, dan sejenisnya yang kesehariannya sangat aktif terlibat dengan lingkungan social formil, dan pergaulan aktif yang menuntut proses imitasi dan saling mempengaruhi terjadi, baik secara sadar maupun spontanitas tanpa direncanakan.

Stokols D (1992) memperkenalkan Model Ekologi dalam konteks dunia kerja. Model Ekologi menjelaskan keterkaitan hubungan faktor-faktor interpersonal, organisasional, komunitas dan faktor kebijakan publik yang berpadu mempengaruhi perilaku personal dan perilaku sehat seseorang. Sehingga dapat dianalogikan bahwa Perilaku kebiasaan mengkonsumsi makanan manis, sehingga menyebabkan obesitas, kegemukan yang berakhir pada potensi penyakit kencing manis, dapat terjadi sebagai akibat pola hubungan saling mempengaruhi dari multiple faktor lingkungan hidup individu, faktor budaya dan lingkungan fisik, seperti ketersediaan makanan, pilihan berolahraga dan gambaran fisik lingkungan tempat tinggal. Model Ekologi yang dipaparkan Stokols pada intinya menjelaskan adanya hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dari berbagai faktor internal dan eksternal individu dalam kesehariannya, dalam konteks penyebab “Simanis yang berujung kronis” maka perilaku individu yang berlebihan dalam mengkonsumsi “si manis” dapat terjadi sebagai akibat dari interaksinya dengan lingkungannya.

Teori lain menjelaskan tentang faktor motivasi personal yang menyebabkan seseorang berisiko mengidap kencing manis. Meminjam teori Godfrey Hochbaum, bahwa perilaku seseorang dalam upaya kesehatannya dipengaruhi oleh seberapa besar kadar persepsinya dalam memahami potensi dirinya berisiko terkena penyakit kencing manis. Penderita Kencing manis biasanya merasa bahwa perilakunya dalam mengkonsumsi makanan dan minuman manis masih dalam tahap wajar, sehingga tidak membutuhkan kontrol spesifik, apalagi pemeriksaan rutin. Persepsinya terhadap resiko diabetes masih teramat minim karena didasari minimnya pengetahuan dan pemahaman tentang diabetes itu sendiri, terlebih kebutuhannya terhadap konsumsi gula begitu mendominasi sehingga mengabaikan persepsinya tentang resiko konsumsi gula dalam kadar berlebih. Berbagai unsur persepsi yang mempengaruhi keputusan individu untuk melakukan tindakan/perilakunya dalam mengkonsumsi gula dipengaruhi oleh seberapa banyak rujukan informasi yang dimilikinya dari lingkungan sekitarnya, maupun budaya sekitarnya. Teori ini kemudian dikenal dengan Teori Health Belief Model (HBM) yang digagas dari hasil penelitian Psikolog Sosial Amerika Serikat yakni Godfrey Hochbaum, Irwin Rosenstock dan Stephen Kegeles dari US Public Health Service tahun 1950.

Masih teramat banyak teori Ilmu perilaku yang dapat menjelaskan korelasi perilaku dengan terjadinya diabetes mellitus. Namun, dari beberapa teori perilaku diatas, cukup bisa menjelaskan signifikansi hubungan antara peran faktor perilaku yang mempengaruhi keputusan individu untuk mengendalikan perilaku mengkonsumsi gula, dan berbagai makanan instant lainnya yang memberikan resiko negative terhadap kesehatan tubuh. Penyakit tidak menular sesungguhnya merupakan penyakit menular, menular dalam arti menularkan perilaku – perilaku tidak sehat, yang didapatkan dari lingkungan keseharian. Terdapat peran individu maupun lingkungan yang mempengaruhi keputusan berperilaku sehat seseorang. Mengatasinya tentu dengan eduksi kontinu agar individu mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar, mendalam dan kontinu hingga memahami urgensi perilaku hidup sehat dalam berbagai tatanannya dan dapat mengenali identitas diri dalam konteks sosialnya, berikut persepsi positifnya dalam menentukan keputusannya untuk memilih apakah ingin hidup sehat ataukah ingin menikmati “rasa manis” yang berujung pada kronisisasi penyakit.

Dalam konteks edukasi potensi diabetes mellitus, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie telah membuka Klinik Terpadu Layanan Edukasi Diabetes Mellitus sebagai upaya professional dalam memberikan pengetahuan, edukasi terarah, kontinu dan sustainable, guna mencegah peningkatan angka diabetes mellitus, memutus mata rantai penularan perilaku tidak sehat, agar masyarakat dapat hidup sehat sehingga mampu beraktifitas produktif. (Andi).

Referensi :

  • Edberg Mark (2010), Buku Ajar Kesehatan Masyarakat, Tinjauan Sosial dan Perilaku, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  • Rosenstock IM (1974), Historical Origins of The Health belief Models, Health Educ Monogr. School of Public HealthUniversity of Michigan. wresearchgate.net%2Ffile.PostFileLoader.html.
  • Stokols D (1992), Establishing and Maintaining Health Environments : Toward s Social Ecology of Health Promotion. Am Psychol, 1992 : 47 : 6-22, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1539925.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, kbbi.co.id



























BERANDAPROFILEJENIS PELAYANANFASILITASJURNAL KESEHATAN DAN KEDOKTERANREGULASIPROMOSI & KEGIATANPENGADAAN
Copyright © 2014 Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak